Kamis, 25 November 2010

Tokoh Pewayangan

ARYA PRABAKESA
Prabakeswa (Mahabharata) adalah putra ke-empat Prabu Arimbaka, raja raksasa negara Pringgandani dengan Dewi Hadimba. Prabakesa mempunyai tujuh saudara kandung, bernama; Arimba/Hidimba. Dewi Arimbi, Brajadenta, Brajamusti, Brajalamatan, Brajawikalpa dan Kalabendana.
Prabakesa mempunyai sifat dan perwatakan; jujur, setia, berbakti dan teguh dalam pendirian.
Prabakesa dan adik bungsunya, Arya Kalabendana menentang rencana pemberontakan Brajadenta dan tiga saudaranya yang akan merebut kekuasaan dan tahta kerajaan Pringgandani dari tangan Dewi Arimbi. Ketika Gatotkaca naik tahta menjadi raja Pringgandani mengantikan ibunya, Dewi Arimbi, Prabakesa diangkat menjadi patih negara Pringgandani.
Akhir riwayatnya diceritakan, gugur dalam perang Bharatayuda bersama-sama Gatotkaca melawan SAdipati Karna, raja negara Awangga.

ARYA PRAGOTA
adalah putra Arya Ugrasena yang setelah naik tahta negara Lesanpura bergelar Prabu Setyajid, dengan Ken Sagupi, seorang swarawati Keraton Mandura.
Setelah Ken Sagupi dikawinkan dengan Antagopa, seorang gembala dan tinggal di kabuyutan Widarakanda/Widarakandang, Arya Pragota dianggap sebagai putra Ken Sagupi dengan Antagopa.
Arya Pragota mempunyai adik kandung bernama Arya Adimanggala yang menjadi patih Adipati Karna di negara Awangga.
Selain itu dari garis keturunan Arya Ugrasena, ia mempunyai dua orang saudara bernama; Dewi Setyaboma (istri Prabu Kresna) dan Arya Setyaki.
Sedangkan dari garis keturunan ibunya, Ken Sagupi, selain Arya Adimanggala ia mempunyai dua orang saudara, yaitu; Arya Udawa, putra Ken Sagupi dengan Prabu Basudewa, dan Dewi Rarasati/Larasati, putri Ken Sagupi dengan Arya Prabu Rukma. Arya Pragota mempunyai perawakan tinggi besar dan gagah.
Suaranya lantang, senang bergurau, kalau bicara disudahi dengan gelak tawa yang berderai.
Arya Pragota menjadi patih negara Mandura mendampingi Prabu Baladewa.
Akhir riwayatnya diceritakan; Arya Pragota tewas dalam peristiwa perang gada antara keluarga sendiri Trah Yadawa, Wresni dan Andaka, setelah selesainya perang Bharatayuda.

ARYA SANGSANGA
atau Jaya Sangasanga (pedalangan Jawa) adalah putra Arya Setyaki dari negara Lesanpura, dengan Dewi Garbarini, putri Prabu Garbanata, raja negara Garbaruci.
Arya Sanga Sanga seorang prajurit yang sangat berani, gagah perkasa dan pantang mundur.
Arya Sanga Sanga dalam segala hal bertindak serba adil dan jujur. Bicaranya singkat, tegas dan serba penting, mencerminkan wataknya yang berjiwa prajurit.
Dalam usia muda ia dinobatkan menjadi raja negara Lesanpura menggantikan kedudukan kakeknya, Prabu Setyajid/Arya Ugrasena yang tewas dalam peperangan melawan Prabu Bomanarakasura raja negara Surateleng/Prajatisa.
Arya Sanga Sanga menikah dengan Dewi Kawati, putri Arya Nirbita, patih negara Wirata.
Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra yang diberi nama; Arya Nabantara.
Arya Sanga Sanga ikut terjun ke medan perang Bharatayuda membela keluarga Pandawa.
Karena jasanya, setelah perang Bharatayuda berakhir, ia diangkat sebagai senapati perang negara Astina di bawah pemerintahan Prabu Parikesit. Jabatan raja negara Lesanpura kemudian ia serahkan kepada putranya, Arya Nabantara.
Akhir riwayatnya diceritakan, Arya Sanga Sanga ikut tewas dalam peristiwa perang gada sesama Wangsa Yadawa, yang membinasakan semua keturunan Wangsa Yadawa, Wresni dan Andaka.

ARYA UTARA
adalah putra kedua Prabu Matswapati/Durgandana, raja negara Wirata dengan permaisuri Dewi Ni Yutisnawati/Rekatawati, putri angkat Resi Palasara dengan Dewi Durgandini.
Arya Utara mempunyai tiga orang adik kandung masing-masing bernama, Arya Seta, Arya Sangka/Wratsangka dan Dewi Utari.
Arya Utara adalah kesatria yang selalu memegang teguh rasa keperwiraannya, memiliki sifat dan perwatakan gagah berani, cerdik, pandai dan limpat serta mahir mempergunakan senjata panah.
Arya Utara menikah dengan Dewi Tirtawati, Putri Prabu Tasikraja, raja negara Tasikretna.
Arya Utara mempunyai tempat bersemayam di kesatrian Cemarajajar. Arya Utara menikah dengan Dewi Tirtawati, putri Prabu Tasikraja, raja negara Tasikretna.
Arya Utara menikah berbarengen dengan perkawinan adiknya, Arya Wratsangjka yang menikah dengan Dewi Sindusari, adik Dewi Tirtawati setelah mereka berhasil membunuh Arya Girikusuma dan ayahnya, Prabu Prawata dari negara Bulukapitu.
Arya Utara terjun kekancah perang Bharatayuda sebagai senapati perang Pandawa mendampingi Resi Seta yang bertindak sebagai Senapati Agung. Arya Utara gugur dalam peperangan melawan Prabu Salya/Narasoma raja negara Mandaraka.s



ARYA WRATSANGKA
atau Arya Sangka adalah putra ketiga Prabu Matswapati/Durgandana, raja negara Wirata dengan permaisuri Dewi Ni Yutisnawati/Rekatawati, putri angkat Resi Palasara dengan Dewi Durgandini.
Arya Wratsangka mempunyai tiga orang saudara kandung masing -masing bernama ; Arya Seta, Arya Utara dan Dewi Utari.
Arya Wratsangka adalah kesatria yang gagah berani, cerdik pandai, tangkas dan mahir mempergunakan senjata panah.
Arya Wratsangka seorang satria yang selalu memegang teguh rasa keperwiraannnya.
Arya Wratsangka menikah dengan Dewi Sindusari, putri Prabu Tasikraja, raja negara Tasikretna, Arya Wratsangka mempunyai tempat kediaman di kesatrian Cemaratunggal.
Arya Wratsangka menikah dengan Dewi Sindusari, putri Prabu Tasikraja, raja negara Tasikretna.
Arya Wratsangka menikah berbarengan dengan kakaknya, Arya Utara yang menikah dengan Dewi Tirtawati, kakak Dewi Sindusari setelah mereka berhasil membunuh Arya Girikusuma dan ayahnya Prabu Prawata dari negara Bulukapitu.
Ketika pecah perang Bharatayuda antara keluarga Pandawa dan Kurawa, Arya Wratsangka terjun ke medan perang sebagai senapati Pandawa, mendampingi Senapati Agung, Resi Seta.
Dalam pertempuran itu ia gugur oleh Resi Durna yang mempergunakan senjata pusakanya Kiai Cundamanik.




BAMBANG SASIKIRANA
adalah putra Gatotkaca, raja negara Pringgandani dengan Dewi Pregiwa, putri Arjuna dengan Dewi Manuhara.
Bambang Sasikirana mempunyai dua orang saudara seayah lain ibu bernama; Arya Jayasupena, putra Dewi Sumpani, dan Arya Suryakaca, putra Dewi Suryawati, putri Bathara Surya dengan Dewi Ngruni.
Ketika berlangsung perang Bharatayuda, Sasikirana tidak ikut terjun kemedan peperangan, meskipun telah cukup dewasa untuk ikut berperang. Setelah berakhirnya perang Bharatayuda dan negara Astina kembali ke dalam kekuasaan keluaraga Pandawa, Sasikirana diangkat sebagai Senapati Astina pada jaman pemerintahan Prabu Parikesit.
Sasikirana berwatak, pemberani, teguh, tangguh, cerdik pandai dan trengginas.


BAMBANG SUMITRA
adalah putra Arjuna, salah satu dari lima satria Pandawa, dengan Dewi Rarasati/Larasati, putri Arya Prabu Rukma/Prabu Bismaka, raja negara Kumbina dengan Ken Sagupi dari padepokan Widarakandang.
Bambang Sumitra mempunyai 13 (tiga belas) orang saudara lain ibu, yaitu; Abimanyu, Bratalaras, Bambang Irawan, Kumaladewa, Kumalasakti, Wilugangga, Endang Pregiwa, Endang Pregiwati, Prabakusuma, Wijarnaka, Antakadewa dan Bambang Sumbada.
Bambang Sumitra ikut pula terjun ke medan perang Bharatayuda. Bersama-sama dengan Prabakusuma, Wilungangga, Wijanarka dan Antakadewa, gugur di medan peperangan melawan Resi Bisma.





ARYA SETYAKA
adalah putra Prabu Kresna, raja negara Dwarawati dengan permaisuri Dewi Setyaboma, putri Prabu Setyajid/Arya Ugrasena dengan Dewi Warsini, dari negara Lesanpura.
Setyaka mempunyai tujuh orang saudara seayah lain ibu, yaitu ; Samba dan Gunadewa (berwujud raksasa), dari permaisuri Dewi Jembawati, Saranadewa (berwujud raksasa), Partadewa dan Dewi Titisari/Sitisari, dari permaisuri Dewi Rukmini, Bambang Sitija/Bomanarakasura dan Dewi Siti Sundari, dari permaisuri Dewi Pretiwi.
Arya Setyaka tinggal di kesatiran Tambakwungkal.
Setyaka menikah dengan Dewi Setiati, dan memperoleh seorang putra yang diberi nama Arya Susatya.
Setyaka mempunyai sifat dan perwatakan ; tenang, pemberani, baik tingkah lakunya dan sangat berbakti.
Arya Setyaka tidak terlibat dalam perang Bharatayuda.
Setyaka ditugaskan oleh ayahnya, Prabu Kresna untuk melayani Prabu Baladewa, raja negara Mandura yang bertapa di Grojogansewu.
Setelah berakhirnya perang Bharatayuda, Arya Setyaka kembali ke Dwarawati lalu pulang ke kesatrian Tambangwungkal.
Setyaka tewas dalam peristiwa perang gada sesama keluarga Wangsa Yadawa, Wresni dan Andaka (Mahabharata).
Sedangkan menurut pedalangan Jawa, Arya Setyaka mati dibunuh Prabu Baladewa yang marah karena merasa dibohongi oleh laporan Setyaka yang selalu mengatakan bahwa perang Bharatayuda belum selesai.



DEWI NAGAGINI
adalah putri Hyang Anantaboga dengan Dewi Supreti dari Kahyangan Saptapratala.
DewiNagagini mempunyai adik kandung bernama Bambang Nagatatmala. Dewi Nagagini menikah dengan Bima/Werkundara, salah satu dari lima satria Pandawa, putra Prabu Pandu raja negara Astina, dengan permaisuri Dewi Kunti.
Mereka bertemu, tatkala keluarga Pandawa dan Dewi Kunti dalam upaya menyelamatkan diri dari rencana pembunuhan oleh keluarga Kurawa dalam peristiwa rumah damar di hutan Wanayasa (peristiwa "Bale Sigala-gala") sampai di Kahyangan Saptapratala.
Dari perkawinan tersebut, lahir seorang putra yang diberi nama Arya Anantareja.
Dewi Nagagini mempunyai sifat dan perwatakan; setia, sangat berbakti, cinta terhadap sesama makhluk dan suka menolong.

DEWI KREPI atau Kirpi (Mahabharata)
adalah putri sulung Prabu Purungaji, raja negara Tempuru dengan Permaisuri Dewi Uruwaci.
Dewi Krepi mempunyai adik kandung bernama Krepa/Kirpa yang menjadi pendeta Istana Negara Astina.
Dewi Krepi mempunyai kesaktian dapat beralih rupa menjadi apa saja yang ia kehendaki.
Dewi Krepi pernah beralih rupa menjadi Kuda Sembrani betina untuk menolong Bambang Kumbayana/Resi Drona terbang menyeberangi lautan. Dewi Krepi kemudian menjadi isteri Bambang Kumbayana, dan berputra seorang lelaki bernama Bambang Aswatama.
Ketika Resi Drona dan Aswatama tinggal di negara Astina dan berhasil membangun padepokan Sokalima, Dewi Krepi tetap menetap di negara Tumpuru, sampai akhir hayatnya.




DEWI KUNTI atau Dewi Prita (Mahabrata)
adalah putri kedua Prabu Basukunti, raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Dayita, putri Prabu Kunti, raja Boja.
Dewi Kunti mempunyai tiga orang saudara kandung bernama; Arya Basudewa, Arya Prabu Rukma dan Arya Ugrasena.
Dewi Kunti menikah dengan Prabu Pandu, raja negara Astina, putra Bagawan Abiyasa dengan Dewi Ambiki.
Dari perkawinan tersebut ia memperoleh tiga orang putra bernama; Puntadewa, Bima/Werkundara dan Arjuna.
Sebelum menikah dengan Prabu Pandu, Dewi Kunti telah mempunyai seorang putra dari Bathara Surya sebagai akibat kesalahannya merapal/membaca mantera Aji Pepanggil/Aji Gineng ajaran Resi Druwasa.
Putranya tersebut bernama Basukarna/Aradea atau Suryatmaja yang setelah menjadi raja di negara Awangga dikenal dengan nama Adipati Karna.
Dewi Kunti sangat menyenangi dan mempelajari ilmu-ilmu kejiwaan/kebatinan.
Dewi Kunti berwatak penuh belas kasih, setia dan wingit.
Dengan penuh kecintaan ia mengasuh dan mendidik dua orang anak tirinya. Nakula dan Sadewa, putra Prabu Pandu dengan Dewi Madrim, melebihi kecintaannya pada putra-putranya sendiri.
Akhir riwayatnya diceritakan, Dewi Kunti mati moksa bersama-sama dengan Dewi Gandari dan Prabu Drestarasta setelah selesainya perang Bharatayuda.

DEWI PERTIWI
adalah putri Prabu Nagaraja, raja di kerajaan Sumur Jalatunda.
Dewi Pertiwi mempunyai adik kandung bernama Bambang Pratiwanggana.
Dewi Pertiwi sesungguhnya istri Bathara Wisnu, Dewa keadilan dan kesejahteraan.
Ketika Bathara Wisnu turun ke Mancapda dan menitis pada Narayana/Prabu Kresna. Dewi Pratiwi ikut menjadi isteri Prabu Kresna. Kedua putranya, yaitu : Bambang Sitija dan Dewi Siti Sundari, juga ikut turun sebagai putra Prabu Kresna.
Bambang Sitija menjadi raja di negara Surateleng dan bergelar Prabu Bomanarakasura.
Sedangkan Dewi Siti Sundari menjadi isteri Abimanyu atau Angkawijaya, putra Arjuna dengan Dewi Sumbadra.
Dewi Pertiwi berwatak setia, jujur, penuh belas kasih, dan sangat berbakti. Ia sangat sakti dan memiliki pusaka Cangkok Wijayamulya, yang kemudian diberikan kepada putranya, Sitija

DEWI RUKMINI
adalah putri sulung Prabu Bismaka / Arya Prabu Rukma, raja negara Kumbina dengan permaisuri Dewi Rumbini.
Dewi Rukmini mempunyai adik kandung bernama Arya Rukmana dan saudara lain ibu bernama Dewi Rarasati/Dewi Larasati putri Arya Prabu Rukma dengan Ken Sagupi seorang swarawati keraton Mandura.
Dewi Rukmini menikah dengan saudara sepupunya, Narayana, putra Prabu Basudewa raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra/Maerah (Jawa).
Setelah Narayana berhasil merebut negara Dwarawati dari kekuasaan Prabu Narasinga, dan menobatkan diri sebagai raja Dwarawati bergelar Prabu Sri Bathara Kresna, Dewi Rukmini diangkat menjadi permaisuri. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh 3 (tiga) orang putra masing-masing bernama: Saranadewa (berwujud raksasa), Partadewa dan Dewi Titisari/Sitisari, yang setelah dewasa menjadi isteri Bambang Irawan, putra Arjuna dengan Dewi Ulupi/Palupi.
Dewi Rukmini berwatak : penuh belas kasih, sabar, setia dan jatmika (selalu dengan sopan santun).
Dewi Rukmini meningal dalam usia lanjut.
Setelah Prabu Kresna mati moksa, ia bersama isteri Prabu Kresna yang lain, terjun ke dalam Pancaka (api pembakaran jenazah), bela pati menyusul suaminya kembali ke Nirwana.

DEWI SITI SUNDARI
sesungguhnya putri Bathara Wisnu dengan Dewi Pratiwi, putri Prabu Nagaraja dari kerajaan Sumur Jalatunda.
Dewi Siti Sundari mempunyai kakak kandung bernama Bambang Sitija, yang setelah turun ke Arcapada dan menjadi raja di negara Trajutisna bergelar Prabu Bomanarakasura.
Ketika Bathara Wisnu turun ke Arcapada menitis pada Prbau Kresna, raja negara Dwarawati, Dewi Siti Sundari menyusul turun ke Arcapada dan diakui sebagai putri Prabu Kresna.
Dewi Siti Sundari mempunyai sifat perwatakan; baik budi, sabar, setia dan sangat berbakti.
Dewi Siti Sundari menikah dengan Abimanyu/Angkawijaya, putra Arjuna dengan Dewi Sumbandra, adik Prabu Kresna.
Dalam perkawinan tersebut ia tidak mempunyai anak.
Dewi Siti Sundari mati masuk ke dalam Pancaka/api pembakaran jenazah.



DEWI SRIKANDI
adalah putri kedua Prabu Drupada, raja negara Pancala dengan permaisuri Dewi Gandawati, putri Prabu Gandabayu dengan Dewi Gandini.
dewi Srikandi mempunyai dua orang saudara kandung bernama; Dewi Drupadi/Dewi Kresna dan Arya Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah.
Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya.
Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putra.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita.
Dewi Srikandi bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya.
Dalam perang Bharatayuda, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, satria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Resi Bisma, senapati Agung balatentara Kurawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Resi Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, putri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Resi Bisma.
Akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan : Ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Astina setelah berakhirnya perang Bharatayuda.

DEWI SUBADRA
atau Dewi Sumbadra (pedalangan Jawa), dikenal pula dengan nama Dewi Mrenges, Dewi Rara Ireng, Dewi Bratajaya dan Dewi Kendengpamali.
Dewi Subadra adalah putri Prabu Basudewa, raja negara Mandura dari permaisuri Dewi Rohini/Dewi Badrahini.
Dewi Subadra mempunyai 4 orang saudara lain ibu, yaitu; Kakrasana dan Narayana dari Dewi Mahindra/Maerah (Ped.Jawa), Kangsa, dari Ibu Dewi Mahira/Maekah - (Kangsa sebenarnya putra Dewi Mahira dengan raksasa Gorawangsa yang menyaru/beralih rupa menjadi Prabu Basudewa palsu dan bermain asmara dengan Dewi Mahira), Udawa, dari ibu Ken Sagupi, seorang swaraswati Keraton Mandura.
Dewi Subadra diyakini sebagai titisan Bathari Sri Widowati, istri Bathara Wisnu.
Dewi Subadra mempunyai watak; setia, murah hati, baik budi, sabar dan jatmika (selalu dengan sopan santun), menarik hati/merakati dan mudah tersinggung.
Dewi Subadra menikah dengan Raden Arjuna, satria Pandawa putra Prabu Pandu, raja negara Astina dengan Dewi Kunti, dan dikaruniai seorang putra yang diberi nama Angkawijaya/Abimanyu.
Dewi Subadra tinggal di taman Banoncinawi, Kadipaten Madukara wilayah negara Amarta.
Akhir riwayatnya diceritakan, ia mati moksa bersama keluarga Pandawa setelah Parikesit, Putra Abimanyu dengan Dewi Utari, dinobatkan sebagai raja Astina menggantikan Prabu Kalimataya/Prabu Puntadewa.





ENDANG PERGIWA
adalah putra Arjuna, salah satu dari lima satria Pandawa, dengan Dewi Manuhara, putri Bagawan Sidik Wacana dari pertapaan Andong Sumiwi.
Endang Pergiwa mempunyai saudara kandung yang merupakan adik kembarnya bernama Endang Pergiwati. Pergiwa juga mempunyai 12 orang saudara lain ibu bernama; Abimanyu, Sumitra, Bratalaras, Bambang Irawan, Kumaladewa, Kumalasakti, Wilugangga, Prabakusuma, Wijarnaka, Antakadewa dan Bambang Sumbada.
Sejak kecil Pergiwa dan adik kandungnya, Pergiwati tinggal di pertapaan Andong Sumiwi bersama ibu dan kakeknya.
Baru setelah remaja, ia dan Pregiwati meninggalkan pertapaan pergi ke Mandukara untuk mencari ayahnya, Arjuna.
Pergiwa memiliki sifat dan perwatakan; setia, baik budi, sabar dan jatmika (selalu dengan sopan santun).
Pergiwa menikah dengan Raden Gatotkaca, raja negara Pringgondani, putra Bima dengan Dewi Arimbi, yang berarti masih saudara sepupunya sendiri. Dari perkawinan tersebut, ia mempunyai seorang putra yang diberi nama Arya Sasikirana.

ENDANG PERGIWATI
adalah putri Arjuna, putra Prabu Pandu raja negara Astina dari permaisuri Dewi Kunti, dengan Dewi Manuhara, putri Bagawan Sidik Wacana dari pertapaan Andong Sumiwi.
Pegiwati mempunyai saudara kandung yang merupakan kakak kembarnya bernama Endang Pergiwa.
Pergiwati juga mempunyai 12 orang saudara lain ibu, bernama; Abimanyu, Sumitra, Bratalaras, Bambang Irawan, Kumaladewa, Kumalasakti, Wilugangga, Prabakusuma, Wijanarka, Antakadewa dan Bambang Sumbada.
Sejak kecil Endang Pergiwati dan kakaknya, Pergiwa tinggal di pertapaan Andong Sumiwi bersama ibu dan kakeknya.
Baru setelah remaja ia dan Pergiwa pergi ke Madukara untuk menemui ayahnya, Arjuna.
Pergiwati memiliki sifat dan perwatakan; setia, jujur, sabar dan jatmika (selalu dengan sopan santun), menarik hati/merakati dan mudah tersinggung.
Pergiwati menikah dengan Raden Pancawala, putra Prabu Puntadewa, raja negara Amarta dengan Dewi Drupadi yang berarti masih saudara sepupu sendiri


KARTAMARMA
adalah salah seorang diantara 100 orang keluarga Kurawa (Sata Kurawa) yang terkemuka.
Kartamarma putra Prabu Drestarasta raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa.
Diantara saudaranya yang dikenal dalam pedalangan adalah; Duryudana (raja Negara Astina), Bogadatta (raja negara Turilaya), Bomawikata, Citraksa, Citraksi, Carucitra, Citrayuda, Citraboma, Dursasana (Adipati Banjarjungut), Durmuka, Durmagati, Durgempo, Gardapati (raja negara Bukasapta), Gardapura, Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Wikataboma, Widandini (raja negara Purantara) dan Dewi Dursilawati.
Kartamarma memliki perwatakan; keras hati, pandai bicara, cerdik, lincah, agak pengecut dan selalu ingin enaknya sendiri.
Kartamarma menikah dengan Dewi Karastri, putri raja Banyutinalang. Setelah mertuanya meninggal, Kartamarma dinobatkan menjadi raja di Banyutinalang.
Kartamarma tidak mati di medan perang Bharatayuda.
Kartamarma mati dibunuh oleh Bima setelah berakhirnya perang Bharatayuda, tatkala bersama Aswatama menyeludup masuk ke dalam istana negara Astina dengna niat menculik dan membunuh bayi Parikesit, putra Abimanyu dengan Dewi Utari.



PARIKESIT
adalah putra Abimanyu/Angkawijaya satria Plangkawati dengan permaisuri Dewi Utari, putri Prabu Matswapti dengan Dewi Ni Yustinawati dari negara Wirata.
Parikesit seorang anak yatim, karena ketika ayahnya gugur di medan perang Bharatayuda, ia masih dalam kandungan ibunya.
Parikesit lahir di istana Astina setelah keluarga Pandawa boyong dari Amarta ke Astina.
Parikesit naik tahta negara Astina menggantikan kakeknya Prabu Karimataya, nama gelar Prabu Yudhistira setelah menjadi raja negara Astina. Ia berwatak bijaksana, jujur dan adil.
Prabu Parikesit mempunyai 5 (lima) orang permasuri dan 8 (delapan) orang putra, yaitu ;
1. Dewi Puyangan, berputra ; Ramayana dan Pramasata
2. Dewi Gentang, berputra ; Dewi Tamioyi
3. Dewi Satapi/Dewi Tapen, berputra ; Yudayana dan Dewi Pramasti
4. Dewi Impun, berputra ; Dewi Niyedi
5. Dewi Dangan, berputra ; Ramaprawa dan Basanta.
Dalam kitab Adiparwa, akhir riwayatnya diceritakan : Prabu Parikesit meninggal karena digigit Naga Taksaka sesuai dengan kutukan Brahmana Granggi yang merasa sakit hati karena Prabu Parikesit telah mengkalungkan bangkai ular hitam di leher ayahnya. Bagawan Sarmiti.


PRABU SALYA
ketika mudanya bernama Narasoma.
Prabu Salya adalah putra Prabu Mandrapati, raja Negara Mandaraka dari permaisuri Dewi Tejawati.
Prabu Salya mempunyai saudara kandung bernama Dewi Madri/Dewi Madrim yang kemudian menjadi isteri Prabu Pandu, raja negra Astina Prabu Salya menikah dengan Dewi Pujawati/Dewi Setyawati.
Putri tunggal Bagawan Bagaspati, brahmana raksasa di pertapan Argabelah, dengan Dewi Darmastuti, seorang hapsari/bidadari.
Dari perkawinan tersebut., ia dikaruniai 5 (lima) orang putra, yaitu; Dewi Erawati, Dewi Surtikanti, Dewi Banowati, Arya Burisrawa dan Bambang Rukmarata.
Prabu Salya mempunyai sifat dan perwatakan; tinggi hati, sombong, congkak, banyak bicara, cerdik dan pandai.
Prabu Salya sangat sakti, lebih-lebih setelah mendapat warisan Aji Candrabirawa dari mendiang mertuanya, Bagawan Bagaspati yang mati dibunuh olehnya.
Prabu Salya naik tahta kerajaan Mandaraka menggantikan ayahnya, Prabu Mandrapati yang meninggal bunuh diri.
Akhir riwayatnya diceritakan, Prabu Salya gugur di medan pertempuran Bharatayuda oleh Prabu Yudhistrira/Prabu Puntadewa dengan pusaka Jamus Kalimasada.



PUNTADEWA
adalah putra sulung Prabu Pandudewanata, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura.
Puntadewa mempunyai dua orang adik kandung masing-masing bernama ; Bima/Werkudara dan Arjuna, dan dua orang adik kembar lain ibu, bernama Nakula/Pinten dan Sahadewa/Tansen, putra Prabu Pandu dengan Dewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dari negara Mandaraka. Puntadewa adalah titisan Bathara Darma.
Puntadewa mempunyai watak; sabar, ikhlas, percaya atas kekuasaan Tuhan, tekun dalam agamanya, tahu membalas guna dan selalu bertindak adil dan jujur.
Puntadewa juga terkenal pandai bermain catur.
Setelah Pandawa berhasil membangun negara Amarta di hutan Mertani, Puntadewa dinobatkan sebagai raja negara Amarta bergelar Prabu Darmakusuma.
Puntadewa juga bergelar Prabu Yudhistira karena dalam tubuhnya menunggal arwah Prabu Yudhistira, raja jin negara Mertani.
Prabu Puntadewa menikah dengan Dewi Drupadi, putri Prabu Drupada dengan Dewi Gandawati dari negara Pancala, dan mempunyai seorang putra bernama Pancawala.
Prabu Puntadewa mempunyai pusaka kerajaan berwujud payung bernama Kyai Tunggulnaga dan sebuah tombak bernama Kyai Karawelang.
Dalam perang Bharatayuda, Prabu Puntadewa tampil sebagai senapati perang Pandawa, dan berhasil menewaskan Prabu Salya, raja negara Mandaraka.
Sesudah berakhirnya perang Bharatayuda, Prabu Puntadewa menjadi raja negara Astina bergelar Prabu Karimataya / Kalimataya.
Setelah menobatkan Parikesit, putra Abimanyu dengan Dewi Utari sebagai raja negara Astina, Prabu Puntadewa memimpin perjalanan moksa para Pandawa yang diikuti Dewi Drupadi menuju ke Nirwana.


RAJAMALA
adalah putra angkat Resi Palasara, dari padepokan Retawu dengan Dewi Durgandini, putri Prabu Basukesti raja negara Wirata.
Rajamala tercipta dari mala penyakit Dewi Durgandini/Dewi Lara Amis yang tertelan seekor ikan betina.
Rajamala terjadi berbarengan dengan saudaranya yang lain, bernama; Kecaka/Kencakarupa, Upakeca/Rupakenca, Setatama, Gandawana dan Dewi Ni Yutisnawati/Rekatawati.
Rajamala juga mempunyai tiga orang saudara angkat lainnya yaitu : Bagawan Abiyasa, putra Resi Palasara dengan Dewi Durgandini, Citragada dan Wicitrawiya, keduanya putra Dewi Duragandini dengan Prabu Santanu, raja negara Astina.
Rajamala berwatak keras hati, berani, ingin selalu menangnya sendiri dan selalu menurutkan kata hati.
|Rajamala sangat sakti, tidak bisa mati selama masih terkena air.
Menurut ketentuan dewata, hanya ada lima orang satria yang dapat mengalahkan dan membunuh Rajamala, yaitu: Resi Bisma, Adipati Karna, Resi Balarama/Baladewa, Duryudana dan Bima.
Rajamala akhirnya tewas dalam peperangan melawan Bima, yang waktu itu hidup menyamar dinegara Wirata dengan nama Balawa, sebagai tindakan Rajamala yang ingin menjamah Salidri nama samaran Dewi Drupadi.
RADEN SAMBA
dikenal pula dengan nama Wisnubrata.
Raden Samba adalah putra Prabu Kresna, raja negara Dwarawati dengan permaisuri Dewi Jembawati, putri Resi Jembawan dengan Dewi Trijata dari pertapaan Gadamadana.
Raden Samba mempunyai adik kandung bernama Gunadewa (berwujud kera).
Raden Samba juga memiliki enam orang saudara lain ibu, yaitu; Saranadewa (berwujud raksasa), Partadewa dan Dewi Titisari/Sitisari (dari permaisuri Dewi Rukmini), Arya Setyaka (dari permaisuri Dewi Setyaboma), Sitija dan Dewi Siti Sundari (dari permaisuri Dewi Pretiwi).
Raden Samba tinggal di kesatrian Paranggaruda.
Raden Samba berparas cakap dan sangat tampan.
Memiliki perwatakan; ladak/galak, pandai bicara, cerdik, limpad, congkak, agak pengecut dan selalu ingin enaknya sendiri.
Sebagai titians Bathara Drema, Samba inigin memperistri Dewi Yadnyanawati/Hagnyanawati, putri Prabu Narakasura raja negara Surateleng yang diyakini sebagai titis Bathari Dremi, yang telah diperistri Prabu Bomanarakasura/Sitija, Putra Prabu Kresna dengan Dewi Pretiwi. Raden Samba tewas dalam peperangan melawan Prabu Bomanarakasura, tetapi dihidupkan kembali oleh Prabu Kresna, yang kemudian membinasakan Prabu Bomanarakasura dengan senjata Cakra.
Raden Samba mati setelah berakhirnya perang Bharatayuda dalam peristiwa perang gada sesama keluarga sendiri Trah Yadawa, Wresni dan Andaka.

RESI SETA
adalah putra sulung PrabuMatswapati/Durgandana, raja negara Wirata dengan permaisuri Dewi Ni Yustinawati/Rekatawati, putri angkat Resi Palasara dengan Dewi Durgandini.
Seta mempunyai tiga orang adik kandung masing-masing bernama ; Arya Utara, Arya Sangka / Wratsangka dan Dewi Utari. Seta adalah putra mahkota negara Wirata, dan mempunyai tempat bersemayam di Cemarasewu.
Seta bergelar Resi karena seorang kesatria yang mempunyai ilmu kependetaan yang dalam.
Seta mempunyai sifat perwatakan berani, tenang dan sabar.
Seta mempunyai Aji Narataka/Narantaka yang kemudian diturunkan kepada murid tunggalnya Gatotkaca, dan gada pusaka bernama Kyai Pecatnyawa.
Seta hidup sebagai kesatria wadat (tidak bersentuhan dengan lain jenis). Seta terjun ke kancah perang Bharatayuda sebagai senapati Agung Pandawa yang pertama, melawan Resi Bisma senapati Agung Kurawa.
Seta gugur oleh tombak pusaka Kyai Salukat milik Resi Bisma.





SADEWA
atau Sahadewa yang dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Tangsen (=buah dari tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan dan dipakai untuk obat) adalah putra ke-lima/bungsu Prabu Pandudewanata, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati dari negara Mandaraka. Ia lahir kembar bersama kakanya, Nakula.
Sadewa juga mempunyai tiga orang saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari negara Mandura, bernama; Puntadewa, Bima/Werkundara dan Arjuna.
Sadewa adalah titisan Bathara Aswin, Dewa Tabib.
Sadewa sangat mahir dalam ilmu kasidan (Jawa)/seorang mistikus.
Mahir menunggang kuda dan mahir menggunakan senjata panah dan lembing.
Selain sangat sakti, Sadewa juga memiliki Aji Purnamajati pemberian Ditya Sapulebu, Senapati negara Mretani yang berkhasiat; dapat mengerti dan mengingat dengan jelas pada semua peristiwa.
Sadewa mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia.
Sadewa tinggal di kesatrian Bawenatalun/Bumiretawu, wilayah negara Amarta.
Sadewa menikah dengan Dewi Srengginiwati, adik Dewi Srengganawati (Isteri Nakula), putri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai/narmada Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra/Ekapratala).
Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra bernama Bambang Widapaksa/ Sidapaksa).
Setelah selesai perang Bharatayuda, Sedewa menjadi patih negara Astina mendampingi Prabu Kalimataya/Prabu Yudhistrira.
Akhir riwayatnya di ceritakan, Sahadewa mati moksa bersama ke empat saudaranya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar